Konsumen AS Pilih Hadiah Berkualitas, Abaikan Diskon Natal

Perilaku Belanja Konsumen AS Berubah Menjelang Akhir Tahun

Menjelang Natal 2025, pola belanja konsumen di Amerika Serikat mengalami pergeseran mencolok. Jika sebelumnya diskon besar menjadi daya tarik utama, kini konsumen mulai mengabaikan potongan harga dan lebih memilih hadiah dengan nilai dan kualitas tinggi. Pergeseran ini muncul terutama pada minggu-minggu terakhir sebelum Natal, saat waktu pengiriman menjadi terbatas dan tekanan untuk memilih hadiah yang bermakna meningkat.

Anggaran Belanja Online Meningkat, Tapi Melambat di Pengujung Musim

Sepanjang 1 November hingga 12 Desember 2025, data mencatat konsumen AS telah membelanjakan sekitar USD 187,3 miliar atau setara Rp 3.144 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.789 per dolar AS) untuk pembelian daring. Angka ini naik 6,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara keseluruhan, total belanja e-commerce musim liburan diperkirakan menembus USD 253 miliar, tumbuh sekitar 5,3% dari tahun sebelumnya.

Namun, laju belanja online ini mulai melambat menjelang pertengahan hingga akhir Desember. Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran konsumen bahwa pengiriman tidak akan sampai tepat waktu sebelum Natal.

Baca Juga : “Man United Kehilangan Pemain Kunci, Amorim Ubah Taktik

Penjualan Melambat Jelang Natal, Meningkat Lagi Usai Tanggal 25

Casey Armstrong, Kepala Pemasaran dari perusahaan logistik ShipBob, menyebutkan bahwa periode 16 hingga 18 Desember biasanya ditandai dengan penurunan transaksi yang signifikan. Ia menyebutkan, “Setelah itu, belanja akan terus menurun hingga Malam Natal, yang sering kali menjadi hari paling sepi dalam musim liburan.” Namun, tren akan kembali naik setelah Natal, tepatnya pada 27 Desember, yang disebut sebagai hari belanja terkuat menjelang penutupan tahun.

Hadiah Premium dan Merek Berkualitas Semakin Dicari

Di tengah penurunan daya tarik diskon, konsumen menunjukkan minat lebih tinggi terhadap hadiah dari merek-merek premium. Berdasarkan analisis Captify atas lebih dari satu miliar pencarian per hari di sekitar tiga juta situs web, terdapat lonjakan besar pada pencarian merek-merek seperti Alo Yoga, Warby Parker, Aritzia, Bombas, dan Quince.

Sebagai contoh, pencarian untuk Alo Yoga naik hingga 256% antara 7–15 Desember dibandingkan akhir November. Quince juga mengalami lonjakan pencarian hingga 124% dalam periode yang sama. Oscar Chow, Kepala Insights Captify wilayah AS, menjelaskan, “Lonjakan ini mencerminkan pergeseran ke arah pemberian hadiah yang lebih bijaksana dan berorientasi kualitas.”

Konsumen Memilih Lebih Sedikit Barang Asal Bernilai Tinggi

Tren kualitas juga terlihat di toko fisik. Menurut laporan RetailNext, konsumen tidak lagi tergoda untuk membeli banyak barang, tetapi memilih produk yang benar-benar dianggap bermakna. Joe Shasteen, Global Manager of Advanced Analytics di RetailNext, menyebutkan, “Konsumen bersedia membayar lebih untuk membuat keputusan yang tepat.”

Selain barang fisik, hadiah berbasis pengalaman dan langganan juga semakin diminati. Produk digital seperti Robux (Roblox), langganan Strava, Peloton, MasterClass, hingga Disney+, Hulu, dan HBO Max menarik perhatian karena tidak tergantung pada pengiriman fisik.

Diskon Masih Ada, Namun Tidak Lagi Jadi Fokus Utama

Meskipun perhatian konsumen beralih ke kualitas, diskon tetap tersedia hingga akhir musim belanja. Adobe Analytics mencatat, diskon terbesar terjadi di kategori mainan, dengan potongan hingga 15%. Barang lain seperti furnitur, perlengkapan tidur, dan televisi memiliki diskon sekitar 10%.

Produk seperti Barbie Dreamhouse, mainan Stitch dari Disney, dan Play-Doh tetap diminati. Di kategori produk anak-anak, Toniebox 2 dan figur Ms. Rachel Tonies menjadi bintang baru musim ini.

Toko Fisik Kembali Populer Karena Faktor Waktu dan Kepraktisan

Ketika pengiriman online dirasa terlalu berisiko, konsumen kembali mengandalkan toko fisik untuk mendapatkan hadiah tepat waktu. Sabtu terakhir sebelum Natal, yang dikenal sebagai Super Saturday, menjadi momen puncak belanja di toko.

Namun karena Natal 2025 jatuh pada hari Kamis, puncak volume belanja di toko diperkirakan berlangsung dari 22 hingga 24 Desember. “Kami memperkirakan tingkat konversi tertinggi musim ini terjadi di hari-hari terakhir sebelum Natal, bahkan bisa menyaingi Black Friday,” tambah Shasteen.

Faktor cuaca yang lebih hangat dan kering di banyak wilayah AS turut mendorong kunjungan ke pusat perbelanjaan, membuat toko fisik tetap relevan meskipun tren belanja digital meningkat.

Layanan BOPIS Meningkat Pesat Menjelang Natal

Untuk menjembatani keinginan praktis dan kepastian pengambilan hadiah, layanan Buy Online, Pick Up in Store (BOPIS) menjadi favorit. Adobe Analytics memperkirakan lonjakan penggunaan BOPIS terjadi pada 22–23 Desember, dengan kontribusi hingga 37% dari total transaksi e-commerce.

Kohl’s mencatat peningkatan dua kali lipat dalam penggunaan layanan ambil di toko pada pekan terakhir sebelum Natal. Menariknya, sekitar 25% pelanggan akhirnya membeli produk tambahan saat mengambil pesanan, yang menunjukkan efektivitas strategi BOPIS dalam meningkatkan transaksi.

Peritel Besar Manfaatkan BOPIS untuk Efisiensi Operasional

Target, salah satu ritel terbesar di AS, menyatakan bahwa pengambilan pesanan di toko atau layanan drive-up dapat menghemat biaya hingga 90% dibandingkan pengiriman dari gudang pusat. Selama musim liburan, 75% pesanan digital mereka dipenuhi langsung dari toko fisik.

Walmart juga mengalami lonjakan pesanan dengan pengiriman ekspres dan pengambilan terjadwal. Pada Malam Natal tahun lalu, 77% pesanan digital Walmart dipenuhi menggunakan pengiriman cepat dari toko. Sementara itu, Dick’s Sporting Goods melaporkan peningkatan signifikan dalam penggunaan BOPIS, terutama dari pembeli yang ingin memastikan hadiah menit terakhir bisa dibawa pulang dalam satu kunjungan.

Kesimpulan: Hadiah Bermakna Jadi Pilihan Utama di Tengah Euforia Liburan

Tren belanja Natal 2025 di Amerika Serikat menandai pergeseran penting dari konsumsi impulsif menuju konsumsi reflektif. Konsumen kini menempatkan kualitas, nilai, dan makna sebagai prioritas utama dalam memilih hadiah, meskipun harus mengabaikan tawaran diskon besar.

Langkah ini tidak hanya berdampak pada jenis hadiah yang dibeli, tetapi juga pada bagaimana dan di mana konsumen berbelanja—dari meningkatnya penggunaan BOPIS hingga kembali ramainya toko fisik. Pergeseran ini memberikan pelajaran penting bagi pelaku ritel: bahwa dalam momen penuh makna seperti Natal, kepuasan konsumen tak selalu diukur dari harga, tapi dari pengalaman dan ketepatan dalam memberikan sesuatu yang bernilai.

Baca Juga : “30 Hadiah Natal di Bawah Rp 100 Ribuan namun Berkualitas Pilihan Pakar Kado!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *