Novoteltoulon.com – Raja Norwegia Harald V sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Universitas Oslo sejak 17 Agustus 2026. Istana menyatakan kondisi sang raja memburuk dan berada dalam keadaan sangat kritis pada Kamis, 27 Agustus. Harald menerima perawatan akibat anemia hemolitik, yaitu kelainan darah yang dapat menghancurkan sel darah merah. Kondisi tersebut membuat keluarga kerajaan segera membatalkan berbagai agenda resmi.
Ratu Sonja dan Putra Mahkota Haakon kemudian mendampingi Harald bersama anggota keluarga lainnya. Haakon juga menjalankan tugas sebagai wali negara selama ayahnya menjalani perawatan. Perkembangan kesehatan Harald menarik perhatian luas masyarakat Norwegia. Warga mulai meletakkan bunga di sekitar Istana Kerajaan Oslo sebagai bentuk dukungan.
Baca Juga : WHO Nyatakan Uganda Bebas Ebola Usai 42 Hari
Sejumlah pejabat tinggi Norwegia juga mengubah agenda mereka setelah menerima kabar mengenai kondisi raja. Perdana Menteri Jonas Gahr Støre membatalkan perjalanan luar negeri ketika situasi kesehatan Harald semakin memburuk. Harald V telah memimpin Norwegia sejak 1991 dan menjadi salah satu raja paling lama bertakhta di Eropa. Ia dikenal sebagai figur pemersatu yang mendukung modernisasi monarki serta keterbukaan dalam kehidupan masyarakat.
Namun, kondisi kesehatannya terus menurun selama menjalani perawatan di Oslo. Istana kemudian mengumumkan Raja Harald V wafat pada Jumat, 28 Agustus 2026. Ia meninggal pada usia 89 tahun setelah lebih dari tiga dekade memimpin Norwegia. Putra Mahkota Haakon otomatis menggantikannya sebagai raja baru Norwegia. Kepergian Harald menandai berakhirnya masa pemerintahan yang berlangsung selama 35 tahun.
Perjalanan Kesehatan Raja Harald V dan Transisi Monarki Norwegia
Raja Harald V menghadapi berbagai masalah kesehatan selama beberapa tahun terakhir sebelum kondisinya memburuk pada Agustus 2026. Dokter memasang alat pacu jantung pada 2024 setelah Harald mengalami gangguan kesehatan ketika berada di Malaysia. Ia tetap menjalankan tugas kerajaan setelah masa pemulihan, meskipun aktivitas publiknya mulai berkurang karena kondisi fisik.
Pada Agustus 2026, rumah sakit kembali merawat Harald setelah dokter menemukan infeksi bakteri dalam aliran darahnya. Tim medis memberikan antibiotik dan sempat melaporkan kondisi raja stabil sebelum kesehatannya kembali mengalami penurunan. Istana kemudian menyatakan kondisi Harald sangat serius pada 27 Agustus, sehingga keluarga kerajaan membatalkan sejumlah agenda resmi.
Ratu Sonja dan Putra Mahkota Haakon mendampingi Harald selama perawatan berlangsung di Rumah Sakit Universitas Oslo. Haakon juga mengambil peran sebagai wali negara ketika Harald tidak mampu menjalankan kewajiban konstitusionalnya. Kini keluarga kerajaan menghadapi tugas mempertahankan kepercayaan publik sambil melanjutkan fungsi monarki dalam sistem konstitusional Norwegia.
Masyarakat Norwegia memberikan perhatian besar terhadap perkembangan tersebut dan berkumpul di sekitar Istana Kerajaan Oslo. Sejumlah warga membawa bunga dan menyanyikan lagu kebangsaan sebagai bentuk penghormatan kepada raja yang telah lama memimpin. Harald naik takhta pada 1991 setelah ayahnya, Raja Olav V, meninggal dunia.
Baca Juga : 5 Jenderal Disingkirkan, Militer China Hadapi Krisis
Selama pemerintahannya, Harald mendorong monarki lebih terbuka dan berusaha menjaga kedekatan keluarga kerajaan dengan masyarakat. Ia juga berulang kali menegaskan keinginannya menjalankan tugas sebagai raja sepanjang hidupnya. Raja Harald akhirnya meninggal dengan tenang pada 28 Agustus 2026 dalam usia 89 tahun.
Wafatnya Harald mengakhiri masa pemerintahan selama 35 tahun dan membuka babak baru bagi monarki Norwegia. Putra Mahkota Haakon kemudian menjadi penerus takhta sesuai aturan suksesi kerajaan yang berlaku di Norwegia.
