Novoteltoulon.com – Menlu Iran Abbas Araghchi, mengunjungi Saint Petersburg pada Senin, 27 April 2026. Ia bertemu langsung dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk membahas krisis keamanan di Selat Hormuz. Pertemuan ini berlangsung saat negosiasi damai antara Iran dan Amerika Serikat mengalami kebuntuan total.
Araghchi membawa misi khusus untuk menggalang dukungan politik dan strategis dari Moskow. Pihak Iran menawarkan proposal untuk membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Namun, Teheran mengajukan syarat agar Amerika Serikat segera menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Mereka juga meminta jaminan keamanan agar tidak ada serangan militer susulan di masa depan.
Ketegangan di jalur energi global tersebut telah memicu lonjakan harga minyak dunia secara signifikan. Pihak militer Amerika Serikat mencatat telah memutarbalikkan puluhan kapal yang terkait dengan kepentingan Iran. Di sisi lain, pemerintahan Donald Trump tetap menuntut penghentian program nuklir sebagai syarat utama. Iran justru mengusulkan agar isu nuklir dibahas pada tahap negosiasi yang berbeda.
Baca Juga : Penembakan di Lokasi Sama Upaya Pembunuhan Ronald Reagan
Dalam pertemuan tersebut, Putin menjanjikan dukungan untuk menjaga stabilitas di kawasan Timur Tengah. Rusia memandang kerja sama dengan Iran sangat krusial untuk menghadapi tekanan diplomatik pihak Barat. Moskow sebelumnya telah menggunakan hak veto untuk menolak resolusi Amerika Serikat terkait Selat Hormuz.
Selain membahas ekonomi, kedua pemimpin juga meninjau dampak kemanusiaan akibat konflik yang terus meluas. Krisis ini telah menyebabkan ribuan korban jiwa di wilayah Iran, Lebanon, hingga Israel. Diplomasi Araghchi ke Rusia menjadi langkah krusial untuk memecah kebuntuan negosiasi yang saat ini terjadi. Pihak mediator dari Pakistan terus berupaya menjembatani perbedaan posisi antara Teheran dan Washington.
Menlu Iran Temui Putin Moskow Janjikan Dukungan Militer dan Stabilitas Energi
Presiden Vladimir Putin menegaskan bahwa Rusia akan berdiri bersama Iran dalam menjaga kedaulatan wilayah perairan. Rusia berencana mengirimkan kapal perang tambahan ke Laut Arab untuk memantau situasi secara langsung. Langkah ini bertujuan untuk menyeimbangkan kehadiran armada tempur Amerika Serikat yang mendominasi kawasan tersebut. Moskow menganggap stabilitas Selat Hormuz sebagai kunci utama untuk menjaga harga komoditas energi global.
Di balik pintu tertutup, kedua negara juga membahas penguatan sistem pertahanan udara di pesisir Iran. Araghchi menekankan bahwa penguatan militer berfungsi sebagai alat pencegahan agar konflik tidak meluas menjadi perang terbuka. Rusia menyambut baik tawaran kerja sama teknologi militer baru yang diajukan oleh pihak Teheran. Mereka sepakat bahwa tekanan ekonomi dari luar hanya akan memperburuk situasi kemanusiaan di Timur Tengah.
Baca Juga : Polisi Selidiki Dugaan TPPO Kasus PRT Loncat di Benhil
Pertemuan ini segera memicu reaksi keras dari Gedung Putih dan sekutu Barat lainnya. Amerika Serikat memperingatkan bahwa keterlibatan aktif Rusia dapat memperumit upaya perdamaian yang sedang berjalan. Namun, Iran merasa dukungan Rusia memberikan posisi tawar yang lebih kuat dalam meja perundingan. Kini, dunia menantikan apakah aliansi ini mampu meredam ketegangan atau justru menciptakan blokade baru.
