Program TJSL PTK Fokuskan Ketahanan Pangan dan Energi Bersih
PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) memperkuat komitmen keberlanjutan dengan meluncurkan implementasi Desa Energi Berdikari (DEB) Tahap II di kawasan wisata Kariangau, Balikpapan Barat, Kalimantan Timur. Program ini menjadi wujud nyata tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir berbasis energi bersih dan ketahanan pangan lokal.
Langkah ini sejalan dengan dua prioritas Asta Cita pemerintahan Indonesia, yakni pembangunan berkelanjutan (Asta Cita 6) dan ketahanan pangan (Asta Cita 2). Dengan pendekatan integratif, PTK tak hanya menambah fasilitas fisik, tapi juga membangun ekosistem partisipatif berbasis masyarakat.
Baca Juga : “QRIS 2026 Targetkan 17 Miliar Transaksi dan Ekspansi Global“
Perluasan Infrastruktur Produktif Tingkatkan Skala Budidaya Ikan
Dalam DEB Tahap II, PTK melakukan peningkatan signifikan pada unit budidaya ikan bioflok. Dari semula hanya dua kolam berdiameter 2 meter dan 3 meter, kini ditambah menjadi masing-masing lima kolam untuk tiap ukuran. Sistem bioflok terbukti meningkatkan efisiensi air dan pakan, serta mendukung produktivitas ikan di lahan terbatas.
Pengembangan ini memperkuat sektor perikanan sebagai sumber pangan berkelanjutan sekaligus membuka peluang pendapatan baru bagi masyarakat. PTK juga memastikan kolam-kolam ini dirancang ramah lingkungan dan mudah dioperasikan oleh kelompok masyarakat binaan setempat.
“Program ini tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi membangun ekosistem,” jelas Syafaat Yudha Perwira, Manager Communication & Compliance PTK. “Kami mendorong keterlibatan aktif masyarakat agar manfaatnya bisa berjangka panjang.”
Pertanian Hidroponik: Solusi Cerdas di Lahan Pesisir Terbatas
Selain sektor perikanan, PTK memperluas penerapan pertanian hidroponik sebagai solusi pangan lokal. Dari satu rak pada tahap awal, kini telah dibangun empat rak hidroponik yang ditujukan untuk menanam sayuran cepat panen. Sistem ini dirancang adaptif terhadap lahan sempit, kekurangan tanah subur, dan fluktuasi cuaca pesisir.
Kolaborasi bioflok dan hidroponik menciptakan ekosistem akuaponik mini yang saling melengkapi—limbah air ikan menjadi pupuk untuk tanaman, sementara hasil panen mendukung kebutuhan gizi masyarakat. Ekosistem ini sekaligus menjadi wahana edukatif untuk wisata berbasis lingkungan yang akan dikembangkan lebih lanjut.
Revitalisasi Rumah Maggot: Kelola Limbah, Perkuat Ekonomi Sirkular
Upaya keberlanjutan diperkuat lewat revitalisasi Rumah Maggot, yakni pusat budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) untuk mengelola limbah organik menjadi pakan alternatif. PTK kini membangun ruang budidaya terpisah dari instalasi PLTS, memastikan sanitasi dan efisiensi operasional lebih optimal.
Magot yang dibudidayakan digunakan sebagai pakan ikan dan ternak, mengurangi ketergantungan pada pakan komersial dan menekan biaya operasional. Di sisi lain, limbah dapur dan sisa panen masyarakat tak lagi menjadi masalah, melainkan sumber daya yang bernilai ekonomis.
Partisipasi Masyarakat Jadi Pilar Keberhasilan Program
DEB Tahap II dirancang berbasis partisipasi aktif masyarakat, bukan sekadar hibah satu arah dari korporasi. PTK mengutamakan peningkatan kapasitas kelompok binaan melalui pelatihan teknis, pengelolaan keuangan usaha, hingga pelibatan dalam perencanaan dan pemeliharaan fasilitas.
Menurut Direktur Utama PTK I Ketut Laba, keberhasilan program TJSL tidak cukup diukur dari output fisik, melainkan dari dampak jangka panjang bagi masyarakat. “Kami berkomitmen tumbuh bersama masyarakat pesisir,” ujarnya. “DEB Tahap II menjadi model desa mandiri yang bisa direplikasi secara nasional.”
Dampak Ekonomi Langsung dan Penguatan Kapasitas Lokal
Dalam implementasinya, DEB Tahap II telah menunjukkan dampak positif berupa peningkatan pendapatan kelompok binaan, khususnya dari sektor perikanan dan sayur hidroponik. Peningkatan kapasitas produksi juga membuka peluang pasar lokal lebih luas.
Lebih dari itu, program ini membentuk ekosistem sosial yang kuat, di mana masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan. Mereka tidak hanya mengoperasikan fasilitas, tapi juga mengelola usaha, memasarkan produk, dan melakukan edukasi pada pengunjung wisata Kariangau.
Wujud Nyata Komitmen ESG Pertamina di Akar Rumput
Inisiatif DEB ini juga memperkuat profil keberlanjutan PT Pertamina (Persero) secara keseluruhan. Baru-baru ini, Pertamina meraih peningkatan MSCI ESG Rating dari BB menjadi BBB, serta ESG Risk Rating 23,4 dari Sustainalytics. Capaian ini menempatkan Pertamina di peringkat tertinggi dari 57 perusahaan minyak dan gas di dunia.
“Rating ini menjadi pengakuan internasional bahwa kami menjalankan bisnis yang lebih hijau, transparan, dan bertanggung jawab,” ujar Muhammad Baron, VP Corporate Communication Pertamina. “DEB adalah contoh bagaimana keberlanjutan diterjemahkan ke dalam aksi nyata di lapangan.”
Peningkatan ini juga menandai keseriusan Pertamina mendukung Net Zero Emission 2060, dengan berbagai langkah konkret mulai dari dekarbonisasi, pengembangan energi baru dan terbarukan, hingga tata kelola dan investasi hijau.
Transformasi Bisnis Energi yang Mengakar pada Kesejahteraan
Momentum HUT ke-68 Pertamina dijadikan titik balik untuk mempercepat transformasi keberlanjutan di seluruh lini bisnis. Pertamina menyadari bahwa strategi ESG bukan sekadar kewajiban pelaporan, tetapi instrumen untuk menjaga daya saing dalam transisi energi global.
Melalui anak usahanya seperti PTK, transformasi ini tidak hanya terjadi di tingkat korporasi, tetapi juga menyentuh akar rumput: masyarakat desa pesisir yang rentan terhadap perubahan iklim dan keterbatasan ekonomi. Model seperti DEB menunjukkan bahwa transisi energi bisa dilakukan sambil memperkuat pangan, pendapatan, dan partisipasi warga.
Penutup: DEB Tahap II sebagai Model Nasional Pembangunan Inklusif
Desa Energi Berdikari Tahap II di Wisata Kariangau tidak hanya menjadi program TJSL biasa, tapi telah bertransformasi menjadi model pembangunan desa inklusif berbasis energi dan pangan. Keberhasilan program ini membuka peluang untuk direplikasi di wilayah pesisir lainnya, dari Sabang hingga Merauke.
Dengan fondasi pada partisipasi masyarakat, efisiensi sumber daya, dan penguatan kapasitas lokal, DEB membuktikan bahwa transisi menuju ekonomi hijau bisa sejalan dengan peningkatan kesejahteraan. Inilah wajah masa depan pembangunan desa yang mandiri, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Baca Juga : “Nyalakan Harapan dari Desa : Kisah Pertamina NRE & Desa Energi Berdikari“
