Kunjungan Lapangan untuk Pantau Dampak Langsung Bencana Alam
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian melakukan kunjungan ke persawahan Aih Badak, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, pada Minggu, 11 Januari 2026. Kunjungan ini dilakukan sebagai bagian dari tugasnya sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di wilayah Sumatra.
Dalam tinjauan tersebut, Tito menyaksikan langsung kondisi lahan pertanian yang terdampak bencana alam. Ia menegaskan pentingnya revitalisasi sawah agar produktivitas pertanian di Gayo Lues segera pulih dan menopang ketahanan pangan regional. “Sawah yang terdampak akan masuk program optimalisasi lahan. Akan direvitalisasi lagi,” ujarnya.
Baca Juga : “Modus Love Scam Terungkap, Korban Rugi hingga Rp49 Miliar“
Optimalisasi Lahan Jadi Prioritas dalam Pemulihan Sektor Pertanian
Tito menjelaskan bahwa proses pemulihan akan difokuskan pada optimalisasi lahan, bukan pencetakan sawah baru. Optimalisasi berarti menghidupkan kembali lahan yang sebelumnya sudah digunakan sebagai sawah tetapi rusak akibat bencana. Prosesnya meliputi pembersihan lumpur, pemberian benih, pupuk, serta bantuan alat pertanian.
“Misalnya diberikan benih, kemudian diberikan pupuk, irigasi, dan lain-lain,” jelasnya. Program ini akan menjadi bagian dari upaya percepatan swasembada pangan nasional yang menjadi agenda utama Presiden Prabowo Subianto.
Koordinasi dengan Menteri Pertanian dan Pemetaan Sawah Terdampak
Revitalisasi sawah tidak hanya dilakukan di Aceh, tetapi juga akan diperluas ke wilayah lain seperti Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Tito menambahkan bahwa Kementerian Dalam Negeri akan berkoordinasi langsung dengan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, untuk menyusun pemetaan detail seluruh sawah terdampak.
“Ada dua mekanisme, yang satu optimalisasi lahan, yang kedua cetak sawah. Untuk Aceh, program yang digunakan adalah optimalisasi,” katanya. Mekanisme ini dipilih karena prosesnya lebih cepat dan langsung menyasar wilayah terdampak.
Revitalisasi Didukung Bantuan Benih, Pupuk, dan Alsintan
Lebih lanjut, Tito menjabarkan bentuk bantuan yang akan diberikan kepada petani terdampak. Selain benih dan pupuk, mereka juga akan memperoleh irigasi darurat serta alat dan mesin pertanian (alsintan) guna mendukung percepatan penanaman kembali.
“Semua nanti akan dirapatkan minggu depan. Akan ada bantuan konkret seperti benih, pupuk, alsintan, bahkan mesin pertanian. Tujuannya agar lahan ini bisa segera kembali produktif,” tegas Tito.
Pemulihan Ekonomi Gayo Lues Mulai Terlihat, Tapi Tantangan Masih Ada
Dalam peninjauan yang sama, Mendagri juga mencermati dinamika perekonomian masyarakat setempat. Ia menyatakan bahwa aktivitas pasar, toko, rumah makan, hingga hotel di Gayo Lues mulai berjalan normal pascabencana. Distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan LPG juga dilaporkan telah stabil.
Meski demikian, Tito mengakui masih ada sejumlah kampung yang warganya belum sepenuhnya pulih karena rumah mereka rusak parah. Untuk itu, ia mendorong pemerintah daerah agar segera menyelesaikan pendataan rumah rusak berdasarkan tingkat kerusakan.
Bantuan Rumah Disesuaikan dengan Tingkat Kerusakan
Bantuan untuk perumahan akan diberikan berdasarkan kategori kerusakan. Rumah rusak ringan akan mendapat bantuan senilai Rp15 juta, rusak sedang Rp30 juta, dan rusak berat Rp60 juta. Namun, untuk rumah rusak berat yang memerlukan relokasi, pemerintah menghadapi kendala terkait ketersediaan lahan.
“Di Gayo Lues, tidak ada tanah pemerintah untuk relokasi. Maka diperlukan dana pembebasan lahan. Pak Bupati mengusulkan anggaran sekitar Rp25 miliar, dan saya akan sampaikan hal ini ke Menteri Perumahan,” ujar Tito.
Program Perlindungan Sosial Diberlakukan bagi Warga Terdampak
Selain bantuan pertanian dan perumahan, masyarakat terdampak bencana juga akan dimasukkan ke dalam skema perlindungan sosial reguler. Di antaranya adalah Program Keluarga Harapan (PKH), Program Prakerja, serta menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan.
“Nanti bisa diusulkan oleh Pak Bupati, terutama bagi warga terdampak bencana yang mengalami penurunan kondisi ekonomi,” terang Tito. Pendataan secara menyeluruh sangat diperlukan agar intervensi sosial bisa tepat sasaran.
Distribusi Logistik Sudah Membaik Meski Jalur Terbatas
Kondisi infrastruktur jalan yang sempat rusak juga menunjukkan perbaikan signifikan. Tito menyebut akses darat ke Gayo Lues kini sudah dapat dilalui kendaraan, meski masih terbatas. Hal ini memungkinkan distribusi logistik, termasuk bantuan pangan, berjalan lebih lancar dibandingkan hari-hari awal pascabencana.
Terkait permintaan bantuan beras oleh Bupati Gayo Lues, Tito menyatakan sudah melakukan koordinasi langsung dengan Perum Bulog. “Kalau untuk bencana, itu bantuan dari negara. Tidak dibayar. Berbeda dengan SPHP yang harganya Rp12.000 per kilo,” ungkapnya.
Pemerintah Tegaskan Komitmen Pulihkan Wilayah Pascabencana
Kunjungan Tito Karnavian ke Gayo Lues menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah pusat serius menangani rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, terutama di sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat. Revitalisasi sawah tidak hanya dipandang sebagai pemulihan lahan, tetapi juga sebagai strategi memperkuat ketahanan pangan daerah dan nasional.
“Program ini bukan hanya tanggap darurat, tetapi upaya jangka panjang untuk memulihkan ekonomi warga dan menjaga keberlanjutan pertanian di wilayah terdampak,” pungkas Tito.
Baca Juga : “Tinjau Persawahan Aih Badak di Gayo Lues, Mendagri Dorong Revitalisasi Sawah Terdampak“
