Harga Minyak Dunia Melonjak, Tembus Rekor Tertinggi Sejak 2022
Pasar energi global kembali mengalami guncangan hebat setelah harga minyak dunia melonjak tajam menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada Jumat, 27 Maret 2026. Kenaikan drastis ini dipicu oleh kegagalan negosiasi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemerintah Iran, yang memicu kepanikan investor terhadap potensi gangguan pasokan energi besar-besaran di kawasan Timur Tengah. Pada penutupan perdagangan, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) asal AS melesat 5,46% hingga mencapai USD 99,64 per barel, setelah sempat menyentuh level psikologis USD 100,04. Di saat yang sama, minyak mentah Brent melonjak 4,22% menjadi USD 112,57 per barel, mencetak rekor harga tertinggi sejak krisis invasi Rusia ke Ukraina pada Juli 2022.
Baca Juga : “PGN (PGAS) Raih Laba Rp3,6 T dan Pendapatan Rp65,9 T di 2025“
Ketegangan Geopolitik dan Manuver Kebijakan Amerika Serikat
Lonjakan harga energi ini sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian diplomasi antara Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump mengambil langkah dengan memberikan perpanjangan waktu 10 hari bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan yang sangat vital bagi perdagangan minyak dunia. Sebagai itikad baik, Trump juga menghentikan sementara rencana serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April 2026. Melalui media sosialnya, Trump mengklaim bahwa negosiasi berjalan sangat baik dan menyebut izin lewatnya 10 kapal tanker di Selat Hormuz baru-baru ini sebagai bentuk “hadiah” dari Iran untuk AS.
Namun, klaim optimis dari Washington justru berbanding terbalik dengan sinyal yang dikirimkan oleh Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pertukaran pesan melalui pihak ketiga tidak bisa disamakan dengan negosiasi langsung. Media pemerintah Iran bahkan melaporkan bahwa Teheran berniat menolak tawaran gencatan senjata dari AS dan sedang mempersiapkan syarat-syarat mereka sendiri untuk mengakhiri konflik. Perbedaan narasi yang tajam antara kedua negara ini membuat para pelaku pasar semakin skeptis terhadap resolusi damai dalam waktu dekat.
Blokade Selat Hormuz dan Ancaman Rantai Pasok Global
Sebagai informasi tambahan, Selat Hormuz merupakan titik sumbat (chokepoint) paling strategis di dunia, di mana sekitar seperlima dari total konsumsi minyak global melewati jalur ini setiap harinya. Gangguan di kawasan ini otomatis melumpuhkan urat nadi pasokan energi dunia. Ketegangan semakin nyata ketika dua kapal kontainer raksasa milik China Ocean Shipping Company (COSCO) mencoba melintasi selat tersebut namun terpaksa putar balik. Insiden ini sangat signifikan mengingat Tiongkok adalah sekutu dekat Iran, dan sebelumnya otoritas Iran menjanjikan keamanan bagi kapal-kapal sekutu. MarineTraffic melaporkan bahwa peristiwa ini mencerminkan betapa tidak stabilnya situasi maritim di wilayah tersebut, bahkan bagi negara sahabat sekalipun.
Berdasarkan data dari perusahaan riset energi Rystad Energy, konflik ini telah mengganggu aliran minyak dan bahan bakar hingga 17,8 juta barel per hari melalui Selat Hormuz. Secara kumulatif, pasar global telah kehilangan hampir 500 juta barel cairan energi sejak krisis ini dimulai, sebuah angka yang secara langsung menguras cadangan minyak global.
Respons Pasar dan Proyeksi Kebijakan Ekonomi Makro
Merespons krisis pasokan ini, para pakar energi memperingatkan bahwa ketahanan pasar telah mencapai batasnya. Paola Rodriguez-Masiu, Kepala Analis Minyak dari Rystad Energy, menyatakan bahwa sistem pasokan global kini telah berubah dari fase “terlindung menjadi rapuh”. Ia menjelaskan bahwa selama empat minggu pertama konflik, pasar mampu bertahan berkat kombinasi surplus pasokan sebelum perang dan cadangan minyak di laut. Namun, penyangga sementara tersebut kini telah habis, menyisakan sedikit ruang untuk menyerap guncangan tambahan jika konflik tereskalasi.
Dari sudut pandang ekonomi makro, lonjakan harga energi ini memunculkan kekhawatiran baru terkait inflasi global. Meski demikian, analis dari bank investasi TD Securities memproyeksikan bahwa guncangan harga minyak ini kemungkinan besar tidak akan memicu respons agresif dari bank sentral AS, Federal Reserve. TD Securities menilai The Fed akan memilih langkah “tunggu dan lihat” (wait-and-see) dan mengabaikan guncangan energi ini, selama ekspektasi inflasi jangka panjang masih terkendali. Mereka memperkirakan The Fed akan tetap pada jalurnya untuk menurunkan suku bunga pada akhir tahun 2026.
Ke depannya, pergerakan harga minyak dunia akan sangat bergantung pada perkembangan konkret di Selat Hormuz dan hasil nyata dari jalur diplomasi AS-Iran. Selama belum ada kesepakatan tertulis yang menjamin kebebasan navigasi di Timur Tengah, pasar energi global diproyeksikan akan terus diselimuti volatilitas tinggi, yang pada akhirnya dapat membebani biaya produksi industri dan pertumbuhan ekonomi negara-negara importir minyak.
Baca Juga : “Harga Minyak Naik, Pendapatan Negara Ikut Bertambah“
